Kamis, 18 Oktober 2012

Museum Kreta Api Ambarawa

Museum Kreta Api Ambarawa

Seorang peramal terkenal pada masa Kerajaan Kediri, Jayabaya, pernah berujar, "mbesuk yen ana ramening jaman, Tanah Jawa bakal sabukan wesi" (suatu saat jika zaman sudah ramai, Tanah Jawa akan berikatpinggangkan besi). Pertengahan abad ke-19 prediksi itu terbukti benar. Jalur kereta api mulai dibangun untuk pertama kalinya di Jawa pada tahun 1864 dan terus dibangun di sepanjang pulau sehingga menjadi ikat pinggang yang mempersatukan Jawa. Kereta api sebagai alat transportasi massal memberi ruang bagi orang-orang di bagian barat, tengah, dan timur Jawa untuk saling mengenal dan bertegur sapa.
Pada masa itu keberadaan kereta api jauh lebih populer dibandingkan kereta kuda, gerobak, atau mobil. Stasiun demi stasiun pun dibangun guna memudahkan perjalanan. Berhubung pada zaman Hindia Belanda kawasan Ambarawa merupakan daerah militer, The Netherlands Indische Spoorweg Maatscappij (Jawatan Kereta Api Belanda) membangun sebuah stasiun kereta api di Ambarawa dengan nama Stasiun Kereta Api Willem 1 supaya memudahkan mengangkut pasukan menuju Semarang. Pada tahun 1976, Stasiun Ambarawa dialihfungsikan menjadi Museum Kereta Api Ambarawa dengan koleksi utama berupa 21 loko uap yang diletakkan di tempat terbuka, menyebar di bawah rimbunnya pepohonan. Lokomotif berusia tua tersebut beberapa di antaranya mempunyai nilai sejarah yang tinggi. Loko C28 buatan pabrik Jerman merupakan loko yang membantu pelarian Presiden Soekarno dari Jakarta ke Yogyakarta pada tahun 1946. Sedangkan loko D5106 pernah bertugas di jalur Hedjaz Railway dan mengangkut jemaah haji serta logistik tentara Turki.
Saat YogYES tiba di Museum Kereta Api Ambarawa, suasana tidak begitu ramai sebab hari sudah beranjak sore. Bangunan tua menyerupai lokomotif dan gerbong kereta yang dahulu berfungsi sebagai kantor stasiun menyambut siapapun yang datang. Saat ini bangunan tersebut berfungsi sebagai ruang pamer, tempat menyimpan beberapa koleksi museum seperti pesawat telepon kuno, mesin ketik, mesin hitung, mesin telegram,stempel karcis, hingga beragam topi masinis. Selain itu, terdapat foto-foto tentang sejarah perkeretaapian di Indonesia. Di sisi kiri dan kanan bangunan berjajar kursi kayu tua yang nyaman untuk menikmati segarnya angin sore. Sekumpulan bocah lelaki nampak asyik bermain bola di antara rel, lokomotif tua, dan lori wisata. Pada musim liburan, akhir pekan, atau banyak kunjungan wisatawan, kereta lori wisata dengan kapasitas 15 - 20 penumpang akan dijalankan menyusuri rel Ambarawa - Tuntang. Sayangnya saat YogYES datang lori wisata tersebut sedang tidak beroperasi.
Bersebelahan dengan lori terdapat gerbong kereta uap berwarna hijau dengan ornamen kuning. Biasanya gerbong berkapasitas 80 orang itu ditarik oleh loko B5202 atau B5203 yang merupakan lokomotif tua buatan Maschinenfabriek Esslingen, Jerman. Meskipun sudah tua, lokomotif yang hanya tersisa di tiga tempat di dunia tersebut masih sanggup menarik gerbong kereta dan mendaki pengunungan menuju Stasiun Bedono. Tarifnya yang mahal untuk sekali keberangkatan sebanding dengan pengalaman yang diperoleh saat naik kereta api uap bergerigi ini. Di sepanjang jalan, mata Anda akan dimanja dengan lanskap menawan berupa sawah dan ladang dengan latar belakang Gunung Ungaran dan Gunung Merbabu, serta Rawa Pening di kejauhan. Tak hanya bertamasya naik kereta semata, perjalanan ini sekaligus menjadi napak tilas jejak perkeretaapian di Indonesia.

Rabu, 17 Oktober 2012

KOTA SURABAYA

Kota Surabaya 
adalah ibukota Provinsi Jawa Timur, Indonesia. Surabaya merupakan kota terbesar kedua di Indonesia setelah Jakarta. Dengan jumlah penduduk metropolisnya yang mencapai 3 juta jiwa, Surabaya merupakan pusat bisnis, perdagangan, industri, dan pendidikan di kawasan Indonesia timur. Surabaya terkenal dengan sebutan Kota Pahlawan karena sejarahnya yang sangat diperhitungkan dalam perjuangan merebut kemerdekaan bangsa Indonesia dari penjajah.
Kata Surabaya konon berasal dari cerita mitos pertempuran antara sura (ikan hiu) dan baya (buaya).
Meskipun Jawa adalah suku mayoritas (83,68%), tetapi Surabaya juga menjadi tempat tinggal berbagai suku bangsa di Indonesia, termasuk suku Madura (7,5%), Tionghoa (7,25%), Arab (2,04%), dan sisanya merupakan suku bangsa lain atau warga asing.
Surabaya terletak di tepi pantai utara provinsi Jawa Timur. Wilayahnya berbatasan dengan Selat Madura di Utara dan Timur, Kabupaten Sidoarjo di Selatan, serta Kabupaten Gresik di Barat. Surabaya berada pada dataran rendah,ketinggian antara 3 – 6 m di atas permukaan laut kecuali di bagian Selatan terdapat 2 bukit landai yaitu di daerah Lidah dan Gayungan ketinggiannya antara 25 – 50 m diatas permukaan laut dan di bagian barat sedikit bergelombang. Surabaya terdapat muara Kali Mas, yakni satu dari dua pecahan Sungai Brantas.luas wilayah kota surabaya adalah 374,36 km2.
Suku Jawa adalah suku bangsa mayoritas di Surabaya. Dibanding dengan masyarakat Jawa pada umumnya, Suku Jawa di Surabaya memiliki temperamen yang sedikit lebih keras dan egaliter. Salah satu penyebabnya adalah jauhnya Surabaya dari kraton yang dipandang sebagai pusat budaya Jawa.
Surabaya juga menjadi tempat tinggal berbagai suku bangsa di Indonesia, termasuk suku Madura, Tionghoa, dan Arab.
Sebagai pusat pendidikan, Surabaya juga menjadi tempat tinggal mahasiswa dari berbagai daerah dari seluruh Indonesia, bahkan di antara mereka juga membentuk wadah komunitas tersendiri. Sebagai pusat komersial regional, banyak warga asing (ekspatriat) yang tinggal di daerah Surabaya, terutama di daerah Surabaya Barat.

Puncak BOGOR

PUNCAK BOGOR
Puncak ---> suatu tempat dimna orang bisa merasakan keindahan alam seutuhnya.puncak jg merupakan suatu tempat beristirahat,terutama bagi kebanyakan orang2 jakarta dmna stelah 5 hari bekerja bisa menenangkan pikiran dr tadinya lelah bekerja menjadi tenang,damai dan menjadi lebih pres.

Puncak ---> merupakan tempat di mana kita bisa melihat keindahan kota bogor terutama pada malam hari.Pada sore hari juga kita bisa bersantai di sana sambil melihat sunset.
Pada malam hari selain melihat kota bogor dari puncak sana, kita juga bisa sekalian mampir di warung2 pinggir jalan sambi menikmati beberapa hidangan makanan,diantaranya jagung bakar.
Sambil kita santai bersama keluarga ataupun yang bawa pasangan.
Kalo kita enggan pulang di sana jug aterdapat banyak vila – vila dari mulai harga paling murah sampai harga yang mahal juga ada.
Di puncak sana juga terdapat mesjid yang limayan cukup terkenal juga,yaitu mesjid At-taun.
Biasanya di mesjid itu lah orang2 pada beristirahat sambil setelah melakukan solat sambil melihat jalan yg berliku dan keindahan kota bogor.
Ini adalah gambar mesjid At-tau'un,:

7 Bidadari

Tujuh Bidadari Waterfall
Konon, sejumlah bidadari pernah mampir untuk mandi di sebuah jurug atau air terjun di Dusun Keseneng, Desa Keseneng, Kecamatan Sumowono, Kabupaten Semarang. Ya, wajar saja para bidadari tersebut tertarik ke air terjun tiga susun setinggi sekitar 10 meter tersebut karena airnya jernih, segar, dan udaranya sejuk.

Mitos perempuan cantik berambut panjang dari kayangan mengiringi cerita keindahan air terjun yang oleh warga sekitar disebut sebagai "Tujuh Bidadari". Cerita turun-temurun ini memang layak mewakili kesegaran air yang jatuh dari sela-sela batu Kali Banteng tersebut.
Air terjun yang terletak di sebelah barat Obyek Wisata Bandungan ini masih alami. Jalan setapak tanah yang berada di antara rindangnya pohon bambu mengantarkan perjalanan menuju lokasi air terjun.
Air terjun tiga susun dengan ketinggian sekitar tiga meter masing-masing ini dikelilingi pohon dengan pemandangan terasering persawahan. Tidak jauh dari tempat itu, gemericik air di pertemuan dua sungai, yaitu Kali Beringin dan Kali Banteng, memecah kesunyian.
Semua itu merupakan sebuah perpaduan yang pas bagi penyuka jalan-jalan, sepeda gunung, dan fotografi. Lokasi yang tenang tanpa bising dan polusi kendaraan atau sesaknya pedagang kaki lima membantu menghilangkan penat dari rutinitas. Mungkin juga, kawasan ini bisa menjadi jawaban atas kebosanan setelah mengunjungi sejumlah tempat wisata di Lereng Gunung Ungaran.

Untuk sampai ke lokasi memang perlu tenaga ekstra dengan bertanya kepada penduduk sekitar karena memang belum ada papan informasi menuju ke sana. Akses jalan yang mulus menuju Dusun Keseneng cukup untuk mobil pribadi atau roda dua dengan waktu tempuh sekitar 20 menit.
Warga dusun itu tentunya akan dengan senang hati menunjukkan jalan menuju air terjun yang kira-kira lima menit perjalanan dengan kendaraan. Selepas dusun, akses jalan memang masih berupa batu dan tanah.

Hanya dibutuhkan 200 langkah kaki orang dewasa untuk sampai ke lokasi dari tempat parkir kendaraan. "Di sini memang belum ada tempat parkir dan tiket masuk untuk wisatawan," ujar Dul Ngadi, Kaur Kesra Desa Keseneng.

Alasan Dul Ngadi (54) mempromosikan air terjun "Tujuh Bidadari" adalah untuk mengenalkan potensi desanya sekaligus mendorong kesejahteraan warga melalui pariwisata. Dia berharap, infrastruktur jalan dari dusun ke air terjun akan diperbaiki.

Ujung Genteng

Ujung genteng

Ujung genteng dimana sih? Begitulah pertanyaan banyak orang.
Ujung genteng memang belum banyak dikenal orang, namun keberadaan nya sekarang ini mulai memberikan kontribusi didalam pariwisata Indonesia.
Ujung genteng berada di daerah pantai selatan jawa barat, terletak 230 km dari Jakarta. Dapat ditempuh selama kurang lebih 7 jam. Rute yang harus ditempuh adalah Jakarta – Bogor – pelabuhan ratu – Jampang kulon – Surade – Ujung genteng.
Lalu ada apa di daerah sekitar Ujung genteng ini?
Salah satu pesona nya adalah pantai pagumbuhan dimana kita dapat melihat penyu bertelor. Pantai dengan pasir yang lembut dan gembur ini merupakan tempat favorit bagi para penyu untuk bertelor. Hampir setiap hari ada penyu yang mampir kepantai ini. Bahkan ketika musim bertelor tiba (bulan Agustus) penyu yang menggunjungi pantai ini dapat mencapai 20 ekor. Penyu yang bertelor disini cukup besar, dan umurnya berkisar 100 tahunan. Luar biasa sekali mengingat penyu ini telah hidup 1 abad, mungkin ketika jaman nya kakek kita masi muda penyu ini sudah hidup di dunia ini. Wow..
Pantai ujung genteng sendiri memang sangat indah, pemandangan sunset yg indah, langit biru yg biru, dan air yg jernih merupakan suatu keunggulan yang benar-benar top , namun jangan membandingkan pantai ujung genteng dengan pantai pangadaran atau anyer karena hasilnya akan sangat2 berbeda. Pantai ujung genteng memang cukup landai, dan airnya sangat jernih, namun pantai ini banyak terdapat batu karang, sehingga tidak dapat dipakai untuk berenang.
Daya tarik lain nya di sekitar daerah ujung genteng adalah curug (air terjun)
Curug cikaso , disini terdapat 3 air terjun, untuk mencapainya kita perlu naik perahu sekitar 3 menitan. Atau berjalan kaki sebentar. View yang sangat indah dapat kita temukan, sekali memandang 3 air terjun kita nikmati. sungguh luar biasa.
Ujung Genteng seperti banyak orang bilang adalah hidden paradise, mengapa? karena selain letaknya di ujung, terpencil, anda tidak akan percaya bahwa ternyata ada pantai dengan pasir putih yang benar-benar cantik. yaitu di cipanarikan, tidak kalah cantik dengan bali
Alam ujung genteng memang menggoda untuk di kunjungi, namun jangan berharap akan mudah untuk mencapai ujung genteng, karena disana benar-benar tempat yang terpencil. Hanya ada beberapa warung, barang yg dijual pun tidak lengkap. Fasilitas transportasi agak sulit, hanya ada ojek.
mungkin harus anda pikirkan ulang jika anda ingin berpetualang kesana dengan kendaraan umum, (backpacker) karena tempatnya benar-benar terpencil. Dan jarak antara satu wisata dengan wisata lainnya sangatlah jauh,